--> Skip to main content

PENENTUAN JENIS PONDASI YANG DIGUNAKAN UNTUK JEMBATAN

Pada pembahasan sebelumnya untuk perencanaan konstruksi jembatan adalah membahas mengenai langkah awal yaitu analisis terhadap geoteknik dengan mengkaji data-data untuk mengenali secara teknis serta berdasarkan kajian geologi terhadap tempat dimana jembatan itu akan dibangun demi tercapainya keamanan dan kenyamanan dalam jangka panjang.

Selanjunya adalah pemilihan tipe atau jenis pondasi yang akan digunakan dalam struktur bawah untuk meneruskan seluruh beban yang ada pada jembatan termasuk beban jembatan itu sendiri. Untuk menentukan jenis jembatan yang digunakan maka harus diketahui terlebih dahulu kedalaman tanah keras.

Penentuan kedalaman tanah keras dimaksudkan untuk mempertimbangkan apakah akan dibuat pondasi dangkal (0-8.00 m) ataukah pondasi dalam (> 8.00 m). Jika lokasi tanah keras terletak pada kedalaman 0-8.00 meter, ada 2 pilihan yang dapat diambil yaitu dipilih pondasi langsung jika letak kedalaman tanah keras  4.00 m, atau pondasi sumuran jika letak kedalaman tanah keras antara 4-8.00 m. Jika letak tanah keras > 8.00 m pondasi yang lazim digunakan adalah pondasi tiang pancang atau tiang bor.

Penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik dimaksudkan untuk memastikan bahwa beban-beban yang bekerja pada jembatan pada akhirnya akan dipikul oleh tanah pondasi yang kapasitas dukungnya mencukupi. 

Jadi dari sisi konstruksi bahan yang digunakan sebagai konstruksi pondasi (tiang pancang, tiang bor, sumuran, pondasi langsung) mampu memikul kombinasi beban-beban yang bekerja, sedangkan di sisi lain tanah pondasi tidak mengalami keruntuhan dalam memikul beban-beban yang bekerja pada jembatan.  

Penetapan pondasi jembatan dimaksudkan untuk menetapkan tipe dan jenis pondasi yang paling sesuai dengan persyaratan-persyaratan perencanaan. Jika dipilih pondasi tiang pancang, agar jelas, apakah pilihan ini merupakan point bearing piles, atau friction piles, ataukah kombinasi dari keduanya. Jika dipilih pondasi sumuran, apakah diameter sumuran yang dipilih masih memberikan ruang gerak bagi pelaksana di lapangan, dan sebagainya.   

PENENTUAN KEDALAMAN TANAH KERAS

Untuk mengetahui kedalaman tanah keras, data lapangan yang harus tersedia adalah data sondir dan data bor. Dalam memilih rancangan pondasi jembatan, diperlukan data-data lapangan yang diperoleh dari test sondir, bor-log lapangan dan bor-log akhir. 

Test sondir dimaksudkan untuk mendapatkan data tentang perlawanan tanah terhadap ujung konus dan lekatan tanah terhadap selimut bikonus. Data-data tersebut diperoleh dengan cara menekan konus dan bikonus ke dalam lapisan tanah yang diselidiki, digambarkan ke dalam suatu grafik yang menunjukkan hubungan antara kedalaman ujung konus (m) dengan tekanan konus (kg/cm2) dan  antara kedalaman ujung konus (m) dengan hambatan pelekat (kg/cm). 

Sedangkan bor log merupakan hasil uji pemboran berupa penampang yang menggambarkan lapisan-lapisan tanah disertai dengan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk menganalisa kondisi tanah/batuan yang harus dipertimbangkan untuk perencanaan pondasi jembatan. 

Bor-log lapangan merupakan catatan-catatan berdasarkan fakta-fakta lapangan sedangkan bor-log akhir dibuat berdasarkan borlog lapangan dan hasil-hasil pengujian laboratorium. 

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa data-data yang diperoleh dari test sondir, bor-log lapangan dan bor-log akhir harus memberikan informasi yang tepat dan akurat guna kepentingan perhitungan pondasi jembatan. 

Ini berarti bahwa letak titik sondir dan bor harus sedemikian sehingga hasil pengolahan dan evaluasi data tanah yang dibuat dapat merepresentasikan informasi tentang properties tanah yang diperlukan dalam perhitungan pondasi jembatan.  

Letak titik sondir dan titik bor kadang-kadang tidak dapat tepat pada rencana letak bangunan mengingat situasi-lapangan yang sulit. Oleh karena itu penting diketahui sampai seberapa jauh dapat diadakan penggeseran, relokasi, pengurangan atau penambahan titik penyelidikan. Untuk pemboran mesin perlu juga ditinjau jalan masuk kelokasi. 

Data bor, berisi jenis dan tebal lapisan-lapisan tanah, mulai dari lapis permukaan tanah asli sampai dengan kedalaman berakhirnya pemboran. Kedalaman pemboran pada umumnya melebihi kedalaman titik sondir.

 

Pada data sondir diatas dapat diperhatikan bentuk grafik yang menggambarkan hubungan antara tekanan konus dan kedalaman ujung konus. Dari grafik tersebut dapat dicari, pada tekanan konus = 150 kg/cm2, berapa kedalaman ujung konus pada tekanan ini? Titik yang menunjukkan tekanan konus = 150 kg/cm2 inilah yang disebut kedalaman tanah keras. Pada Gambar grafik diatas titik tersebut berada pada kedalaman 24 m di bawah permukaan tanah asli. 

Batasan-batasan kedalaman tanah keras yang lazim digunakan dalam perencanaan pondasi adalah sebagai berikut:  

  • Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman  4 m dari permukaan tanah asli, maka yang diperlukan adalah pondasi dangkal, pada umumnya cukup dengan pondasi langsung.  
  • Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman  4-8 m dari permukaan tanah asli, maka yang diperlukan adalah pondasi dangkal, pada umumnya digunakan pondasi sumuran. 
  • Jika lokasi tanah keras berada pada kedalaman > 8 m dari permukaan tanah asli, maka yang diperlukan adalah pondasi dalam, pada umumnya dipilih pondasi tiang pancang.

Perkiraan kedalaman tanah keras berdasarkan data sondir merupakan indikasi awal tentang jenis pondasi yang dapat kita pertimbangkan. Perhitungan lebih rinci nantinya akan didasarkan atas berbagai informasi tentang tanah pondasi baik yang diperoleh berdasarkan hasil sondir maupun hasil pengujian laboratorium, termasuk data-data yang berkaitan dengan kekuatan bahan pondasi jembatan.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar