Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Beton SCC (Self Compacting Concrete)

 

SEJARAH BETON SCC

Sejak tahun 1983 dijepang telah diketahui permasalahan durabilitas beton. Untuk mendapatkan beton
yang tahan lama diperlukan kontrol kualitas yang baik dengan pengecoran yang dikerjakan oleh tenagan ahli. 

Problem beton adalah diperlukan pemadatan yang cukup intesif untuk menghasilkan beton yang padat. Rongga-rongga udara sering terjebak dalam beton sehingga kekuatanya sangat rendah. Semakin berkurangnya tenaga ahli menyebabkan perlunya campuran beton yang dapat memadat sendiri
dan hanya memerlukan sedikit tenaga ahli untuk mengerjakannya dan didapatkan beton dengan kualitas tinggi.

Kemudian pada tahun 1990-an beton SCC pertama kali diperkenalkan oleh Okamurasebagai upaya mengatasi persoalan pengecoran di Jepang. Sampai sekarang beton SCC banyak digunakan untuk kontruksi tertentu yang memang mengharuskan penggunaan beton SCC.

APA YANG DIMAKSUD BETON SCC?

Beton merupakan komponen yang tak asing dalam dunia kontruksi. Perkembangan yang kian semakin maju menjadi berdampak pada tumbuhnya inovasi pada desain bangunan konstruksi. Tak jarang kita menemukan desain konstruksi dengan tulangan yang rapat sehingga menyulitkan untuk melakukan pemadatan beton basah dengan vibrator. Dengan permasalahan tersebut lahirlah dengan yang namanya beton SCC (Self Compacting Concrete).

Secara umum kita dapat dengan mudah mengartikan beton SCC tersebut yakni beton yang memiliki kemampuan memadat sendiri untuk mengisi setiap celah pada lahan pengecoran yang terdapat tulangan atau celah sempit sehingga tidak perlu menggunakan alat penggetar (vibrator untuk memadatkan).

Memadatkan beton basah artinya usaha untuk mengisi seluruh ruang cetak tanpa ada udara sedikitpun yang terjebak dalam adukan beton. Dengan beton yang padat diharapkan menghasilkan kuat tekan yang maksimal.

APA SAJA KOMPOSISI BETON SCC?

Tidak jauh berbeda dengan beton konvensional atau beton normal pada umumnya. Beton SCC juga terdiri dari agregat kasar, agregat halus, semen dan air. Akan tetapi untuk campuran maupun perbandingan antar unsur pencampur itu berbeda dengan beton normal. 

Selain itu pada beton SCC selalu ditambahkan dengan bahan tambah (admixture) berupa superplasticizer. Untuk mineral tambahan lainnya bisa menggunakan Fly Ash atau Silica Fume

Fungsi bahan tambah ini adalah menambah tingkat workability campuran beton tanpa harus menambah nilai faktor air semen (fas) campuran beton. Nilai fas ini mempengaruhi porositas beton, semakin kecil nilai fas maka tingkat porositas beton akan cenderung semakin kecil. Tingkat porositas beton inilah yang mempengaruhi nilai kuat tekan dan permeabilitas beton.

Kemudian agregat halus pada SCC lebih banyak dari pada beton konvensional. Hal demikian memiliki fungsi untuk mengalirkan beton segar dengan mudah. Selain itu agregat kasar yang digunakan untuk SCC berukuran 5-20 mm.

Komposisi agregat inilah yang dapat mengurangi tingkat permeabilitas dan porositas pada SCC sehingga beton lebih kedap air dan cenderung lebih awet dari pada beton konvensional.

 

BAGAIMANA PENGUJIAN BETON SCC? 

Jenis beton manapun di produksi atau dibuat oleh Batching Plan dengan Job Mix Atau Desain Mix tertentu. Setelah beton dibuat kemudian akan diangkut atau dibawa menggunakan Truck Mixer (TM) menuju lokasi yang telah ditentukan. Sebelum beton dituangkan biasanya akan dilakukan pengujian untuk mengetahui kualitas beton dengan melihat kekentalannya saat akan dituangkan.

Pengujian pada beton konvensional adalah dengan cara Slump Test. Slump test beton adalah pengujian kekentalan beton segar agar beton yang diproduksi dapat mencapai kekuatan mutu beton dan mendapatkan nilai slump beton yang baik. 

Nilai slump ditentukan berdasarkan jenis kontruksi yang direncanakan. Semakin tinggi nilai slump maka semakin encer beton, begitu juga sebaliknya semakin rendah nilai slump maka semakin kental beton tersebut. Nilai slump tersebut berpengaruh pada workability atau pengerjaan saat beton tersebut dituangkan. 

Berbeda dengan beton konvensional, pengujian pada beton SCC terdiri dari beberapa metode yaitu :

1. Slump Flow Test

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui hasil design campuran beton berupa kemampuan pengisian (Filling Ability) dan Kemampuan alir (Flowability). Secara singkat pengujian ini dilakukan dengan cara memasukkan beton segar SCC kedalam corong pengujian slump sama seperti pengujian pada beton konvensional kemudian diangkat. 

 


Namun yang membedakan adalan pada beton SCC akan langsung menghampar membentuk bulatan. Lalu diukur menggunakan meteran. Diameter yang terbentuk harus memiliki ukuran minimal 650 mm dan maksimal 800 mm. Untuk lebih jelas mengenai dan tatacara uji slump flow test klik disini.

2. V Funnel Test

Pengetesan ini dilakukan untuk campuran beton SCC dengan menggunakan alat V Funnel untuk mengetahui kemampuan pengisian (Filling Ability). 

3. L Box Test

Pengetesan ini dilakukan untuk campuran beton SCC dengan menggunakan alat L-Box untuk mengetahui kemampuan melewati kondisi tulangan tertentu (Passing Ability).

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BETON SCC

1. Kelebihan Beton SCC

  • Tidak perlu pemadatan menggunakan vibrator
  • Menghemat jumlah tenaga pekerja
  • Mengurangi kebisingan yang dapat mengganggu lingkungan sekitar
  • Memudahkan pengecoran
  • Mempercepat pengecoran

2. Kekurangan Beton SCC 

  • Biaya lebih mahal dibanding beton konvensional
  • Pembuatan bekisting beton harus benar-benar diperhatikan agar tidak mengalami kebocoran saat pengecoran
  • Beton tidak boleh mengalami segregasi namun tetap harus memenuhi syarat flowabilitas

Posting Komentar untuk "Mengenal Beton SCC (Self Compacting Concrete) "